Sabtu, 02 Mei 2009

Banyak CSR Kurang Tepat Sasaran

BANYAK program corporate social responsibility (CSR) perusahaan ditengarai kurang tepat sasaran, dan malah mubazir. Ini menunjukkan sebagian CSR masih dilaksanakan perusahaan sebatas kewajiban tanpa perhitungan manfaat dan potensi pemberdayaan pada masyarakat.

Demikian disampaikan Piet Supriyadi, Deputy Executive Director Kemitraan Partnership, di sela-sela talkshow "Potret dan Peluang CSR Dalam Upaya Penanggulangan Kemiskinan Masyarakat Sekitar Hutan", Rabu (14/1), di Grha Sabha Pramana UGM. Acara ini rangkaian Pekan Raya Hutan dan Masyarakat 2009.

Menurut pengamatan Piet, banyak perusahaan di Indonesia hanya menyerahkan uang kepada pihak-pihak tertentu yang diserahi menjalankan program CSR. Perusahaan tak mau repot-repot melakukan survei, mengkaji, dan melibatkan penuh masyarakat.

"Beranjak dari itu, dikhawatirkan uang CSR perusahaan malah sia-sia karena terpotong di tengah jalan. Selain itu, banyak pula CSR yang kegiatannya tidak bermanfaat dan tidak memberdayakan masyarakat," ujarnya. (kompas.com)

Hardiknas, Ipteks Jamin Daya Saing Bangsa!


Sabtu, 2 Mei 2009 | 12:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan Nasional Prof Dr Bambang Sudibyo mengatakan, dunia pendidikan Indonesia patut meneladani perjuangan Ki Hadjar Dewantara sebagai pelopor pendidikan nasional dengan terus mengembangkan tuntutan kebutuhan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, serta seni (ipteks).

Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Pendidikan Nasional Prof Dr Bambang Sudibyo dalam pidatonya menyambut peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Sabtu (2/5) pukul 8.00 pagi tadi, di halaman Kantor Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Jakarta. Pidato bertema "Pendidikan Sains, Teknologi, dan Seni Menjamin Pembangunan Berkelanjutan dan Meningkatkan Daya Saing Bangsa" tersebut disampaikan selama satu jam di hadapan ratusan peserta upacara terdiri dari para pejabat berbagai instansi Diknas, guru, pelajar SMP, SMA, dan Madrasah, serta siswa-siswi Kejar Paket A.

Selain memberikan pidato, Menteri Bambang Sudibyo juga memberikan penghargaan Satya Lencana Satya Karya kepada 108 pegawai di jajaran Diknas sebagai penghargaan atas pengabdian mereka selama lebih dari 10 sampai 30 tahun bagi dunia pendidikan nasional lewat berbagai bentuk bidang dan karya.

"Kita berada dalam kehidupan yang terus berubah dengan cepat, kemajuan ipteks terutama perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menyebabkan persaingan antarbangsa begitu ketat dalam era globalisasi saat ini," kata Bambang. "Untuk menghadapi hal itu, tidak ada jalan lain harus kita lakukan kecuali meningkatkan kemampuan, kemandirian, dan daya saing bangsa Indonesia melalui pendidikan untuk semua yang bermutu," tambahnya.

Hal lain yang disampaikan oleh Bambang dalam pidato Hardiknas kali ini adalah bahwa periode tahun 2009 ditandai dengan capaian besar dalam pemenuhan kewajiban pemerintah melalui peningkatan biaya satuan BOS yang cukup signifikan. Dengan capaian tersebut, pemerintah telah dapat membebaskan seluruh peserta didik SD negeri dan SMP negeri terhadap pungutan biaya operasional sekolah, kecuali pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).

Mulai bulan Januari 2009, tambah Bambang dalam sambutannya, biaya satuan BOS, termasuk BOS buku, untuk tiap siswa per tahun naik menjadi Rp 400.000 untuk siswa SD di kota, Rp 397.000 untuk siswa SD di kabupaten, Rp 575.000 untuk siswa SMP di kota, serta Rp 570.000 untuk siswa SMP di kabupaten.

"Hal itu merupakan salah satu bukti komitmen pemerintah dalam memenuhi amanat UUD 1945 terkait dengan kenaikan 20 persen anggaran pendidikan," kata Bambang.

Alamat Email Majelis Guru SMPN28 Batam

Username : mardi.smpn28@gmail.com

Username : tbandono@gmail.com

Username : iselsariandi@gmail.com

Username : sonysugiantoro@gmail.com

Username : suriana.28@gmail.com

Username : destriyana@gmail.com

Username : minorasembiring@gmail.com

Username : syafrida.spd@gmail.com

Username : fitrianidewi398@gmail.com

Username : tutiardiasyam@gmail.com

Sabtu, 25 April 2009

ujian nasional

UJIAN NASIONAL (UN) seolah menjadi hal yang sangat mengerikan bagi anak. Bukan hanya anak yang dihadang stres karenanya, orang tua pun ketiban buluh. Malah, sering kali orang tua yang lebih stres dibandingkan dengan anaknya. Akibatnya, orang tua memaksa anak belajar ekstra keras, nyaris melebihi takaran yang semestinya.

Kelemahan siswa dalam mempersiapkan UN pada umumnya terletak pada pengaturan manajemen waktu belajar. Terkadang siswa tidak fokus dan menganggap dengan belajar lebih lama dia akan lebih mengerti. Ketika UN yang materinya sederhana justru mereka tidak bisa mengerjakan. Ini yang sering terjadi!

peran orang tua sangat berpengaruh terhadap kesiapan mental dan psikologis siswa dalam menghadapi UN. Orang tua harus menjadi zona ternyaman bagi anak. Mereka harus paham bagaimana kondisi anak. Tidak perlu menuntut dan menekan anak agar terus belajar, apalagi memberikan target.

Anak pasti memiliki strategi sendiri dan tahu persis apa yang dia hadapi dan bagaimana cara menghadapinya. Kalau orang tua banyak menuntut harus belajar ini, harus les itu, anak justru semakin terbebani.

Selain lingkungan internal, tekanan yang dihadapi anak juga datang dari luar lingkungan sekolah dan keluarga. Media misalnya. Dari beberapa kali penyelenggaraan UN, pemberitaan terhadap pelaksanaan UN, benar-benar membuat rasa nyaman anak hilang. Belum lagi prilaku pejabat, yang suka membangun pamor jabatannya, mendatangi sekolah meninjau persiapan UN padahal anak sedang melakukan ujian.

Kondisi ini tentu memperburuk keadaan. Anak menjadi cemas, sehingga mereka gagap dalam menjawab soal. Kita mungkin sering dengar atau baca. Ada anak pintar yang nggak lulus ujian. Itu merupakan salah satu bentuk buruk daripada kecemasan yang terjadi dalam diri anak.

Kendati sikap cemas itu tidak selamanya berakibat fatal, namun dengan kebebasan bependapat dan menyampaikan informasi seperti zama sekarang ini, tentu pertahanan anak jeblok. Mereka menjadi gagap memasuki ruang kelas, padahal soal ujian yang mereka hadapi, jawabnya tidaklah seberat informasi yang berkembang diluar ruang kelas.


Akibatnya, beragam aktifitas dilakukan anak menjelang ujian. Misalnya, menggelar event seremonial seperti do'a istighosa. Adalagi bentuk lainnya. Pejabat daerah berlomba-lomba menyambangi ruang ujian anak, sekedar keliling dan difoto untuk konsumsi koran.


Hal yang tidak nyaman ini, tentu mempengaruhi kondisi mental anak, yang akhirnya bermuara pada kesiapan mereka menjawab soal-soal yang diuji. Oleh karenanya, sudah saatnya kita berhenti 'mempolitisir' UAN ini, baik untuk kepentingan pribadi, kelompok atau institusi. Perlakukan saja, UAN layaknya seperti pelaksanaan ujian semester, jangan terlalu dieksploitasi terlalu berlebihan. (*)