Engkaulah yang mengajarku Jika Aku Kesulitan Guru, Kaulah yang membantuku Dalam senang maupun susah Kaulah yang mengajarku, Sampai aku tumbuh pintar dan cerdas
Tapi Aku hanya menikmati, Segenap kata-kata dirimu Walaupun Engkau Sering memarahiku, Menghukumku.
Tapi Aku Tahu Kau bukan orang sejahat itu Semua Jasamu akan ku kenang selalu Sampai Akhir Hidupku Aku akan selalu mendo’akanmu Semoga engkau bahagia di hari nanti
Guruku Semua jasamu, Budi baikmu Akan semua yang aku alami ini Bisa kau alami selalu Engkau bagaikan malaikat dunia Tanpa kepintaranmu
Aku tidak bisa seperti ini Terimakasih atas pengorbanan Jasa yang engkau berikan kepadaku, Guruku.
* Bio File: Diana, usia 13 tahun. Sekarang duduk dibangku kelas I C, SMP Negeri 28 Batam. Diana lahir di Langsa, Aceh, 5 Oktober 1996. Prestasi yang diukir, juara I lomba mewarnai SMAM di Batam, dan pernah mengikuti speech contest bahasa Inggris pada peringatan Hardiknas 2009. Diana memiliki keluarga di Hongkong, dan pernah mengunjunginya pada tahun 2000. Cita-cita: Arsitek
BERDASARKAN penelitian dari para ilmuan yang tergabung dalam kelompok diskusi Inter-Govermental on Climate Change (IPCC), selama tahun 1990-2005 suhu bumi sudah meningkat sebanyak 0,15.0,3 derjat celcius. Perkiraan IPCC, sampai tahun 2050 atau 2070 nanti, suhu bumi akan terus meningkat sampai 2-4,2 derjat celcius. Hal ini mengakibatkan permukaan air laut terus meninggi sampai 1 (satu) meter di akhir abad ini.
Menurut pakar, professorKenneth, dariState University of New Jersey, sejak tahun 1850 permukaan air laut itu sekarang naik sekitar 2 mm pertahun. Padahal katanya, 150 tahun lalu dan beberapa ribu tahun sebelumnya, rata-rata kenaikan air laut hanya sekitar 1 mm pertahun. Hal ini disebabkan meluasnya penggunaan bahan bakar dan maikin tingginya dampakyang timbul karena efek gas rumah kaca.
Akibat dari terus meningginya permukaan air laut itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peserta pertemuan United Nation Framework Conventiona on Climate Change (UNFCC) adalah, 42 negara yang memiliki pulau-pulau kecil(Small Islands Developing States (SIDS) terancam tenggelam. Negara-negara ini berada dan tersebar du perairan Afrika, Asia, Pacific, Karibia dan Mediterania. Kekuatiran lainnya, kalau air laut naik 50 meter saja, kepulauan Maladewa di Samudra Hindia, dan 60 persen wilayah Pulau Grenada di Karibia juga diprediksi akan ikut tenggelam.
Pakar Lingkungan Hidup Indonesia, Professor Emil Salim, pemanasan global tetap nggak dikendalikan, dalam 30 tahun mendatang, sebanyak 2 ribu pulau-pulau di Indonesia akan menyusul tenggelam. Bahkan sebagian wilayah Jakarta, jawa barat, dan banten diprediksi akan ikut tenggelam pada akhir abad ini.
Peneliti dari Institut Tekhnologi Bandung, Dr Army Susandi,MT mengatakan setiap 10 cm kenaikan air permukaan laut, bisa merendam 10 m kawasan pantai. Menurut perkiraannya pada tahun 2030, Bandara Soekarno-Hatta pun mungkin sudah terendam,lho!
Pendapat lainnya disampaikan Direktur Pemberdayaan Pulau-Pulau Kecil, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Departemen Perikanan dan Kelautan RI di Jakarta. Menurut dia, selama 2 tahun yaitu sejak 2005-2007, sebanyak 24 pulau kecil yang sudah teridentifikasi dan memiliki nama di sejumlah wilayah di Indonesia, tenggelam dan penyebabnya mayoritas karena penggerusan atau abrasi pada permukaan air laut. Kondisi ini sebagian terjadi karna adanya aktifitas eksploitasi alam seperti penambangan pasir laut, untuk kepentingan komersil. Tiga pulau lainnya, tenggelam karena Tsunami Aceh, yang terjadi pada tahun 2004 silam.
Adapun lokasi pulau yang tenggelam tersebut diantarnya adalah 3 pulau Aceh, 5 pulau di Kepulauan Riau, 2 pulau di Sumatera Barat, 1 Pulau di Sulawesi Selatan, 7 pulau di Kepulauan Seribu, Jakarta, dan beberapa pulau lainnya masih di wilayah pulau Sumatera.
Jadi menghilangnya beberapa pulau dari peta belakangan ini, ternyata ini bukan Cuma kisah buku legenda lho? Gara-gara mencairnya es di kutub utara, abrasi air laut karena aktifitas eksploitasi sumber daya alam, ternyata bisa bikin pulau-pulau kita nggak terlihat lagi dalam peta. Bisa jadi, dalam beberapa tahun kedepan, kita nggak punya Jakarta lagi, dan juga daerah pesisir lainnya. Parahnya, jangan-jangan pulau kita juga ikut tenggelam.
Nah, makanya fren, nggak ada salahnya mulai sekarang kita cintai bumi sekarang! Dan ikut menyelamatkannya dengan cara melakukan kegiatan penghijauan, tidak hanya di sekolah, tapi juga pada areal-areal tertentu yang kita anggap patut untuk segera dihijaukan. Trus, kita juga hati-hati saat ingin membuang sampah. Sampah yang kita hasilkan harus dibuang sesuai jenisnya, basah, kering dan berbahaya. Bagi kamu yang masih terbiasa membuang sampah sembarangan, mulailah merubah sikap, karena perbuatan kamu bisa-bisa, dapat merugikan kepentingan orang banyak.Bagi yang punya kendaraan, ingatkan orang tuanya supaya tidak boros dalam menggunakan bahan baker minyak atau gas. (*)
Tulisan ini ditulis oleh siswa kelas VIIIa, SMPN 28 Batam, dan karya jurnalistik pelajar ini juga telah dimuat pada majalah dinding sekolah, pada edisi bulan Mei 2009.
PADA Sabtu tanggal 2 Mei 2009 lalu, majelis guru dan seluruh siswa kelas satu sampai kelas III di SMPN 28 Batam mengadakan apel upacara bendera, memperingati Hari Pendidikan Nasional. Berbeda dari tahun sebelumnya, Hardiknas tahun ini kami selenggarakan secara sederhana di halaman sekolah, sambil duduk bersama-sama menyaksikan lomba pidato dalam bahasa inggris oleh peserta yang mewakili semua kelas.
Acara tersebut cukup berkesan. Apalagi, kakak kelas III sudah selesai melaksanakan Ujian Nasional. Ketika bersama-sama, wajah mereka kelihatan cukup sumringah. Kebahagiaan tersebut seolah ingin terulang lagi, walaupun hal tersebut tidak mungkin terjadi.
Pada saat yang sama, sekolah kami juga melakukan kegiatan penghijauan guna memperingati hari bumi. Karena sekolah kami terbilang baru ditempati. Jadi wajar bila suhu udara di sekolah kami selama ini terkesan sedikit panas. Kegiatan penanaman 200 batang pohon penghijauan tersebut sekaligus bakti kami mengurangi dampak pemanasan global (global warming) yang kini telah menjadi isu sentral bagi seluruh rakyat di belahan dunia.
Sekolah kami baru 3 tahun menempati gedung baru di Taman Raya Tahap III. Jumlah muridnya tahun ini sebanyak 380 orang, termasuk kakak kelas III. Sebagai junior, kami sangat mengharapkan siswa kelas III yang menjadi peserta pada Ujian Nasional lalu bisa lulus seratus persen, karena hal itu akan menjadi bukti bahwa kami dan guru benar-benar serius ingin memperbaiki kualitas diri dan kualitas anak bangsa ini. (*) Foto Lainnya
Prestasi besar tim Indonesia dalam Konferensi Internasional Saintis Muda Ke-16 di Polandia, 16-24 April, ibarat hadiah Hari Pendidikan 2009.
Ada beberapa alasan. Pertama, masih ada berita menggembirakan di tengah hiruk-pikuk perpolitikan yang menyita perhatian. Kedua, masih muncul keberhasilan emas anak-anak negeri ini di tengah karut-marutnya praksis pendidikan.
Dan ketiga, masih ada sekelompok kecil anak muda yang tidak menyia-nyiakan anugerah dan talenta di tengah jutaan rekan mereka yang tidak bisa bersekolah, tidak punya masa depan karena faktor kemiskinan, kelalaian orangtua, korban kejahatan, atau gaya hidup berseliweran di mal atau terjerat narkoba.
Keadaan ini bukan salah mereka, bukan juga orangtua mereka. Kesalahan ada pada pengambil keputusan, kita juga. Kita lalai mengembangkan praksis pendidikan dan iklim masyarakat yang kondusif-suportif.
Gugatan atas praksis pendidikan berikut segala kebijakannya perlu ditangkap sebagai rasa memiliki. Tanpa menolak adanya motivasi latah, hampir semua gugatan disertai usulan dimotivasi komitmen kita, mengemban amanah UUD 1945 ”mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Mari kita bersama-sama menemukan jalan tengah. Taruhlah satu contoh, kasus terakhir, ujian nasional (UN). Masyarakat mulai menerima UN sebagai salah satu cara meningkatkan mutu pendidikan.
Akan tetapi, ketika UN akan ditingkatkan sebagai kriteria masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi, keberatan masyarakat bisa diterima. Ada perbedaan besar antara ujian masuk sebagai achievement test dan tes masuk sebagai predictive test.
Nalar masyarakat tidak kalah cerdas dibandingkan dengan nalar para pengambil keputusan. Kita hargai keputusan departemen teknis untuk menempatkan hasil UN sebagai bukan satu-satunya syarat kelulusan, bukan juga tiket masuk, juga kebebasan sekolah dan guru sebagai instansi paling berwenang soal keberhasilan belajar.
Kita ambil sisi positif pengurangan besaran anggaran pendidikan anggaran 2009. Walaupun kebijakan itu ibarat cermin belum ditempatkannya kegiatan kependidikan sebagai prioritas utama. Sudah waktunya sekolah, khususnya guru, memperoleh apresiasi atas profesinya, di antaranya selain kewenangan di sekolah, juga menuntaskan program sertifikasi.
Hari Pendidikan 2 Mei 2009 terutama merupakan kesempatan mengapresiasi keterbukaan para pengambil kebijakan. Kedua, berterima kasih kepada para pendidik dan mereka yang bekerja di lingkungan kependidikan. Ketiga, keberanian mengembangkan sistem pendidikan yang jauh dari kepentingan politik, apalagi dengan proyek-proyek mercu suar tiru-tiru.(kompas.com)
Sabtu, 2 Mei 2009 | 03:29 WIB Jakarta, Kompas - Sekalipun pagu indikatif anggaran pendidikan akan turun pada RAPBN 2010, Depdiknas tidak akan menurunkan anggaran untuk program yang langsung menyentuh masyarakat. Bantuan operasional sekolah atau BOS, misalnya, besarnya anggaran akan tetap dipertahankan.
Seperti diwartakan sebelumnya, anggaran pendidikan tahun 2010 ditargetkan senilai Rp 195,63 triliun atau berkurang Rp 11,7 triliun dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar Rp 207,41 triliun. Dengan anggaran Rp 195,636 triliun, anggaran pendidikan 2010 setara dengan 20,6 persen dari total RAPBN 2010. Anggaran pendidikan tahun 2009 sebesar 21 persen dari APBN. Penurunan anggaran pendidikan ini karena pemerintah tahun depan akan fokus pada upaya pemulihan perekonomian nasional dan pemeliharaan kesejahteraan rakyat.
Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional Dodi Nandika mengatakan, besaran anggaran 2010 tersebut merupakan pagu indikatif. ”Angkanya masih bisa berubah. Secara makro dari Departemen Keuangan ada penurunan. Kalaupun itu terjadi, Departemen Pendidikan Nasional siap melaksanakan. Persentase anggaran juga tidak di bawah 20 persen,” ujarnya.
Departemen Pendidikan Nasional sudah mencermati program-program yang akan diprioritaskan dan disisihkan. Namun, dia menegaskan, rancangan program yang menyentuh langsung masyarakat, seperti bantuan operasional sekolah, bantuan operasional manajemen mutu, dan pembelian hak cipta buku pelajaran, akan dipertahankan.
”Pengurangan anggaran akan dilakukan pada pos-pos yang tidak prinsip, antara lain bantuan-bantuan yang sifatnya bukan langsung untuk pendidikan.
Penelitian di perguruan tinggi terkait pengembangan bidang keilmuan tidak terganggu, tetapi yang sifatnya penelitian di bidang kebijakan akan sedikit terkurangi,” ujarnya.
Disesalkan
Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo mengatakan, Jumat (1/5), pihaknya sangat prihatin dan menyesalkan adanya kemungkinan penurunan anggaran pendidikan tersebut. Menteri Pendidikan Nasional berkewajiban meyakinkan agar semua departemen mempunyai niat sama untuk membangun sumber daya manusia melalui pendidikan.
PGRI sendiri pernah mengajukan uji materi terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang belum memenuhi ketentuan anggaran pendidikan 20 persen ke Mahkamah Konstitusi bersama Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia.
”Anggaran pendidikan seharusnya tidak turun, terlebih lagi kebutuhan penggajian dan pendidikan meningkat,” ujarnya. Dia berharap pula anggaran untuk kesejahteraan melalui pemberian tunjangan profesi dan fungsional guru tidak terganggu.
Hal senada diungkapkan Direktur Institute of Education Reforms Utomo Dananjaya. Penurunan anggaran pendidikan itu, menurut dia, bukan karena pemerintah tidak memiliki dana, melainkan komitmen pemerintah pada pengembangan pendidikan dan kebudayaan masih kurang.
”Padahal, tanpa pembangunan pendidikan yang serius sangat sulit mengejar peradaban yang tinggi,” kata Utomo. (INE/kompas.com)
SISTEM pendidikan nasional telah kehilangan roh nasionalnya akibat kebijakannya yang bertumpu pada basis material dan formalisasi agama. Kuatnya basis material itu dipicu dorongan dari luar, sedangkan kuatnya formalisasi agama merupakan dorongan dari dalam pascareformasi politik 1998.
Kuatnya peran kapital dalam pendidikan itu ditandai oleh munculnya berbagai kebijakan yang lebih bersifat padat modal, misalnya pendidikan berbasis IT, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, sertifikasi ISO, world class university, double degree, memprivatisasi perguruan tinggi negeri menjadi perguruan tinggi badan hukum milik negara, hingga memprivatisasi semua lembaga pendidikan melalui pengesahan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan. Semua kebijakan itu lalu membentuk watak pendidikan menjadi korporasi, menutup akses orang miskin untuk mendapat layanan pendidikan, praksis pendidikan pun menjadi monoton, kering, tidak berpijak pada budaya masyarakat. Fungsi pendidikan sebagai proses integrasi bangsa terabaikan.
Dampak kuatnya peran kapital itu secara institusional, cara menilai kinerja Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) pun hanya dari satu sisi, yaitu daya serap anggaran, tidak dilihat bagaimana implikasi penggunaan anggaran terhadap kesejahteraan masyarakat.
Sedangkan secara gagasan, Depdiknas menempatkan perolehan sertifikasi ISO sebagai simbol keberhasilan pengelolaan lembaga pendidikan. Padahal, selain sertifikat ISO tidak gratis (padat modal), juga standardisasi proses pendidikan akan menumpulkan kreativitas guru, inovasi, serta menghilangkan model-model pendekatan nonmanajerial (humanis, budaya, nilai, dan lainnya) karena semua harus berjalan sesuai dengan standar baku yang sudah ditentukan asesor.
Memerdekakan manusia
Ki Hadjar Dewantara, pendiri Perguruan Tamansiswa sekaligus salah seorang peletak dasar sistem pendidikan nasional, menyatakan, maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai anggota persatuan (rakyat). Dalam pendidikan harus diingat, kemerdekaan bersifat tiga macam, yaitu berdiri sendiri (zelfstandig), tidak tergantung orang lain (onafhankelijk), dan dapat mengatur diri sendiri (vrijheid, zelfbeschikking).
Implikasi konsep Ki Hadjar adalah pendidikan harus mampu menumbuhkan makhluk sosial agar dapat menjadi bagian integral masyarakat-bangsa. Karena itu, dalam praksis, proses pendidikan tidak dibangun berdasarkan prinsip persaingan, tetapi kerja sama. Karena itu, model-model pendidikan melalui permainan itu penting karena permainan selalu mengajarkan kerja sama antartim.
Konsep Ki Hadjar itu diturunkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 tentang Pokok-pokok Pengajaran di Sekolah. Ini berbeda dari tujuan pendidikan nasional dalam UU No 20/2003 tentang Sisdiknas yang lebih membentuk manusia sebagai makhluk individu. Konsekuensinya, kebijakan turunannya diarahkan untuk membentuk manusia sebagai makhluk individu yang harus bersaing dengan sesama. Kebijakan pendidikan seperti ini menciptakan segregasi masyarakat berdasarkan basis ekonomi (mampu dan tidak mampu). Padahal, Ki Hadjar mengingatkan, sekolah itu bukan toko, tetapi perguruan (tempat guru tinggal atau dapat diartikan tempat studi). Sebagai tempat studi, siapa saja bisa datang untuk menimba ilmu. Kalau toko, hanya mereka yang punya uang yang dapat mengakses, yang tidak punya uang hanya menonton.
Formalisasi agama
Faktor internal yang turut menghilangkan ciri nasional sistem pendidikan kita adalah kuatnya keinginan sebagian kelompok untuk membentuk sistem pendidikan yang lebih agamis dan itu terakomodasi dalam UUD 1945 hasil amandemen. Ayat 2 Pasal 31 UUD 1945 yang asli mengatakan, ”Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional; yang diatur dengan undang-undang”. Tetapi Ayat 3 Pasal 31 UUD 1945 diamandemen menyatakan, ”Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”. Implikasi kedua pasal itu jelas berbeda terhadap turunannya (Sisdiknas) dan kebijakan lain.
Pada tingkat praksis kita melihat, dari soal seragam (bagi siswi, pakaian bawah harus sampai menutup tumit), salam pembuka/penutup di kelas, pilihan jenis kegiatan di sekolah, sampai pengaturan tempat duduk di ruang kelas kini banyak didasarkan pada pandangan agama. Ironisnya, praksis pendidikan semacam itu justru lebih kuat terjadi di sekolah-sekolah negeri yang seharusnya lebih universal dan netral sehingga dapat menjadi pilihan pertama bagi orangtua yang bermacam latar belakang agama, suku, maupun budaya untuk menyekolahkan anaknya tanpa ada sekat apa pun. Mereka yang ingin menyekolahkan anaknya dengan tujuan sekaligus memperkuat keimanan dapat memilih sekolah swasta berbasis agama.
Perkembangan sekolah saat ini membuat minoritas (di daerahnya) memilih sekolah swasta yang sesuai dengan agamanya. Akibatnya, tanpa disadari, orang ditarik ke kelompok masing-masing. Padahal, sekolah negeri seharusnya menjadi ruang terbuka bagi siapa pun untuk membangun interaksi sosial dan integrasi bangsa tanpa mengalami sekat agama, suku, agama, maupun ekonomi. Kebijakan pendidikan yang menciptakan segregasi masyarakat berdasarkan kemampuan ekonomi dan agama jelas kurang menguntungkan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan kebangsaan perlu mendapat perhatian serius di sekolah negeri agar lulusannya memiliki jiwa kebangsaan yang luas dan tidak makin kerdil.
Kini diperlukan menteri pendidikan yang punya visi tentang bangsa dan negara sehingga menjadikan pendidikan sebagai proses integrasi bangsa. Pendidikan harus dikembalikan sebagai proses kebudayaan, bukan korporasi yang diukur dengan sertifikasi ISO. Juga kembalikan sekolah negeri menjadi milik publik agar dapat diakses semua warga (apa pun agama dan kemampuan ekonominya). Kita juga memerlukan presiden yang peduli pendidikan.
IBARAT batu karang, Djudju Djunaedi atau Mbah Udju, selama 20 tahun lebih tak pernah surut dari mimpinya. Setiap hari sepulang bekerja di Perkebunan Karet Gunung Hejo, PT Perkebunan Nusantara VIII, ia berkeliling kampung-kampung di Kecamatan Darangdan, Purwakarta, dengan berjalan kaki. Dengan sabar ia menyambangi penduduk desa, menawarkan jasa meminjamkan buku dan majalah dari rumah ke rumah.
Hasilnya? Ada orang yang mau membaca buku dan majalah yang dibawanya saja sudah untung. Namun, sebagian besar orang desa yang didatangi malah menolak tawarannya dengan berbagai alasan. ”Kayak orang gedean saja membaca buku dan majalah,” ia menirukan salah satu alasan warga.
Bagi mereka membaca bukan kebutuhan. Membaca buku atau majalah dianggap kemewahan, hanya menjadi milik orang kaya di perkotaan. Padahal, Mbah Udju tak menentukan tarif untuk buku dan majalah yang dipinjamkan. ”Asal orang mau membaca saja saya sudah senang,” katanya.
Walau hanya mengenyam pendidikan formal di sekolah rakyat (kini sekolah dasar) dan bekerja sebagai karyawan rendahan, ayah dua anak ini memulai kegiatan dengan meminjamkan buku dan majalah yang sudah dibaca anak sulungnya, Edi Rohman. Sejak umur empat tahun, Edi gila membaca.
”Kalau saya pulang dari mana-mana, yang ditanyakan bukan ole-ole, tetapi buku,” katanya.
Buku dan majalah mula-mula dipinjamkan kepada anak-anak yang ayahnya bekerja sebagai karyawan di lingkungan perkebunan. Mereka diajari membaca oleh istrinya, Heni Saeni. Dua tahun kemudian ia meluaskan wilayah kegiatan ke lingkungan penduduk lain yang masih sekampung.
Desa Gunung Hejo, tempat keluarga ini tinggal, terdiri atas 17 rukun tetangga. Dengan sabar dan tak kenal lelah, selama dua tahun, satu per satu penduduk didatangi. Mimpinya menjadi pustakawan kampung mengalahkan rasa lelah. Dengan menyelendang kantong besar berisi majalah dan buku, ia mendatangi warga Desa Darangdan, tetangga Desa Gunung Hejo.
Desa itu sebenarnya pusat kecamatan. Namun, tak mudah mengubah sikap penduduknya. Selama dua minggu ia mendatangi warga desa, tak seorang pun yang mau meminjam buku dan majalah.
Bahkan, di Desa Sawit, tetangga Desa Darangdan, selama dua bulan Mbah Udju menyambangi warga, juga tak seorang pun yang mau meminjam buku dan majalah. ”Tapi, saya tidak pernah putus asa,” ujarnya.
Tak kenal lelah
Macam-macam cara ditempuh Mbah Udju agar warga desa di sekitar tempat tinggalnya punya minat baca. Ia pernah memberikan majalah, malah diacak-acak, diguntingi untuk kliping salah seorang murid SMP.
”Walau sebelumnya saya sering datang ke desanya, anak itu tidak pernah meminjam buku atau majalah,” katanya.
Untuk majalah yang ”dirusak” itu pun Mbah Udju tak meminta ganti rugi sepeser pun. Sebagai imbalan, ia hanya mengajukan syarat agar anak itu datang lagi dengan membawa teman-teman.
Kiat lainnya dilakukan dengan kerja sama mahasiswa beberapa universitas di Bandung yang sedang melaksanakan kuliah kerja nyata dan praktik kerja lapangan di desanya. Lewat lomba membaca, kegiatan itu diharapkan bisa menumbuhkan minat baca pada anak-anak.
”Hadiahnya seadanya, disediakan secara patungan oleh para mahasiswa,” katanya.
Kecamatan Darangdan terdiri atas 17 desa, tetapi hanya delapan desa yang menjadi daerah operasinya. Desa-desa itu dikunjungi secara rutin. Letak antara satu desa dan desa lain berjauhan. Tak jarang ia harus melewati daerah-daerah sepi yang merupakan perkebunan teh rakyat. Kecamatan Darangdan merupakan salah satu pusat perkebunan teh rakyat. Setiap hari ia menempuh jarak puluhan kilometer dengan berjalan kaki.
Pengalamannya yang tak terlupakan terjadi pada akhir 1996. Pulang dari Desa Nangewer, hujan turun rintik-rintik. Mbah Udju bergegas karena hari sudah senja. Buku dan majalah disimpan dalam buntelan kain, kemudian diselendangkan di bahunya. Tanpa rasa takut, ia berjalan seorang diri melewati tempat sunyi dan jauh dari perkampungan penduduk. Tiba-tiba dari arah belakang muncul sepeda motor yang dikendarai tiga orang berbadan tegap.
Salah seorang di antaranya turun lalu menodongkan senjata tajam. Bungkusannya direbut dan uang Rp 6.500 dirampas. Namun, setelah beberapa ratus meter, bungkusan buku dan majalah itu dilemparkan. Isinya berserakan. Mbah Udju sedih. Mungkin bungkusan itu mereka kira berisi kain atau bahan pakaian yang biasa dijajakan ke kampung-kampung.
Sejak itu Mbah Udju memutuskan, dua desa dia lepaskan.
Hasil sumbangan
Bekerja sampai menjelang malam dan pulang dengan keringat bercucuran, penghasilannya setiap hari Rp 8.000, paling banyak Rp 15.000. ”Kadang-kadang hanya Rp 3.000,” kata istrinya, Heni Saeni.
Pendapatannya yang tak seberapa itu jauh dari memenuhi kebutuhan. Apalagi, anak bungsunya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Maka, ketika ada wartawan setempat seusai mewawancara meminta biaya publikasi sebesar Rp 300.000, Mbah Udju menjawab, ”Uang pensiun saya dalam sebulan saja tak sebesar itu.”
Sejak tahun 2006 Mbah Udju menjalani pensiun. Setiap bulan ia menerima Rp 232.000. ”Hanya cukup untuk beli beras dan bayar listrik,” istrinya menimpali.
Hidup sederhana, tetapi tetap memiliki optimisme menumbuhkan minat baca penduduk desa, sejak 1992 perpustakaannya dinamakan Perpustakaan Saba Desa yang artinya keliling desa. Bangunannya menempati salah satu ruangan rumahnya yang hanya bisa dicapai dengan berjalan setapak di Kampung Ngenol RT 10 RW 3. Di tempat ini buku dan majalah tersimpan rapi dalam rak. Sebagian buku dan majalah masih ditumpuk begitu saja.
Ratusan buku dan majalah itu adalah sumbangan penerbit dan masyarakat setelah mereka membaca permohonan Mbah Udju yang disampaikan lewat surat pembaca. Salah seorang di antaranya, Ny Made Hidayat dari Jakarta, menjadi penyumbang setia sejak 1992.
Mbah Udju mengirimkan surat-surat itu dengan tulisan tangan. ”Boro-boro dengan komputer, mesin ketik saja tak ada,” katanya.
(HER SUGANDA Pengurus Forum Wartawan dan Penulis Jawa Barat)
Tahukah Anda. Indonesia memiliki 72 ribu desa. Dari angka itu, desa yang belum dijangkau oleh siaran televisi sedikitnya 31 ribu desa. (sumber: muhammad nuh, menkominfo RI)
Info Untuk Anda
Ujian Semester Genap Kelas I dan II SMPN 28 Batam dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2009. Terhitung mulai Senin tanggal 25 Mei 2009, semua siswa kelas 1 dan 2 masuk pagi. (07-15 s/d 13.15 wib)
Kirim Tulisan
Weblog ini dikelola Rekan OSIS dan Siswa SMPN 28 Batam. Redaksi menerima kiriman tulisan berupa berita, artikel, feature, puisi, foto jurnalistik berbau pendidikan, untuk kemudian dimuat dalam blog smpn28batam. Semua bentuk tulisan disampaikan melalui e-mail ;. Sebagian isi blog ini telah dipublikasikan pada majalah dinding (mading) SMPN 28 Batam. Terimakasih atas atensinya.(*)